TARI DAERAH JAWA TIMUR

1. Tari Rakyat terdiri atas tari Reog Kendang, tari Jaran Goyang, tari Gandrung.

2. Tari Klasik terdiri atas tari Remo dan tari Beskalan.

 

 

 

 

TARI REOG KENDANG

Kesenian reog kendang sampai sekarang berkembang di hampir setiap desa di Tulungagung. Apalagi, pemerintah kabupaten setempat menjadikan reog kendang sebagai ikon sekaligus kebanggaan Tulungagung. Reog kendang menghasilkan irama tetabuhan perkusi gembluk (kendang) yang bertalu-talu dan terkadang diselingi suara sompret (terompet). Reog semakin atraktif ditingkahi tari-tarian. Tarian itu dimainkan 6, 12, atau 18 orang. Tari reog kendang terkesan sederhana dan tidak rumit, tetapi tetap menebarkan nuansa keindahan sekaligus estetika koreografi yang khas kesenian tradisi dan etnik.

Kembali ke atas

 

TARI GANDRUNG

Gandrung wanita pertama yang dikenal dalam sejarah adalah gandrung Semi , seorang anak kecil yang waktu itu masih berusia sepuluh tahun pada tahun 1895. Menurut cerita yang dipercaya, waktu itu Semi menderita penyakit yang cukup parah. Segala cara sudah dilakukan hingga ke dukun, namun Semi tak juga kunjung sembuh. Sehingga ibu Semi ( Mak Midhah ) bernazar seperti “Kadhung sira waras, sun dhadekaken Seblang, kadhung sing yo sing” (Bila kamu sembuh, saya jadikan kamu Seblang, kalau tidak ya tidak jadi). Ternyata, akhirnya Semi sembuh dan dijadikan seblang sekaligus memulai babak baru dengan ditarikannya gandrung oleh wanita.

Menurut catatan sejarah, gandrung pertama kalinya ditarikan oleh para lelaki yang didandani seperti perempuan dan, menurut laporan Scholte (1927), instrumen utama yang mengiringi tarian gandrung lanang ini adalah kendang. Pada saat itu, biola telah digunakan. Namun demikian, gandrung laki-laki ini lambat laun lenyap dari Banyuwangi sekitar tahun 1890an, yang diduga karena ajaran Islam melarang segala bentuk transvestisme atau berdandan seperti perempuan. Namun, tari gandrung laki-laki baru benar-benar lenyap pada tahun 1914, setelah kematian penari terakhirnya, yakni Marsan .

Menurut sejumlah sumber, kelahiran Gandrungditujukan untuk menghibur para pembabat hutan, mengiringi upacara minta selamat, berkaitan dengan pembabatan hutan yang angker.

Tradisi gandrung yang dilakukan Semi ini kemudian diikuti oleh adik-adik perempuannya dengan menggunakan nama depan Gandrung sebagai nama panggungnya. Kesenian ini kemudian terus berkembang di seantero Banyuwangi dan menjadi ikon khas setempat. Pada mulanya gandrung hanya boleh ditarikan oleh para keturunan penari gandrung sebelumnya, namun sejak tahun 1970-an mulai banyak gadis-gadis muda yang bukan keturunan gandrung yang mempelajari tarian ini dan menjadikannya sebagai sumber mata pencaharian di samping mempertahankan eksistensinya yang makin terdesak sejak akhir abad ke-20.

Kembali ke atas

 

TARI REMO

Tari Remo berasal dari Jombang , Jawa Timur. Tarian ini pada awalnya merupakan tarian yang digunakan sebagai pengantar pertunjukan ludruk . Namun, pada perkembangannya tarian ini sering ditarikan secara terpisah sebagai sambutan atas tamu kenegaraan, ditarikan dalam upacara-upacara kenegaraan, maupun dalam festival kesenian daerah. Tarian ini sebenarnya menceritakan tentang perjuangan seorang pangeran dalam medan laga. Akan tetapi dalam perkembangannya tarian ini menjadi lebih sering ditarikan oleh perempuan, sehingga memunculkan gaya tarian yang lain: Remo Putri atau Tari Remo gaya perempuan.

Kembali ke atas

 

TARI BESKALAN

Tari Beskalan adalah salah satu bentuk tari putri yang berkembang dari bentuk tari ritual, khususnya sebagai medium upacara yang erat kaitannya dengan eksistensi bumi atau tanah, yang kemudian sekitar tahun 1930–an berkembang menjadi bentuk tari yang terkait dengan pertunjukkan “Andong“, sejenis tayub yang pertunjukan secara berkeliling “mbarang “ atau “amen”.

Kembali ke atas